Vibizdaily    Financial    Regional    Management    Tekno Biz    Info Belanja    Jobs & Career    Forum
 
 

News


Kal-Teng:Kesejahteraan para pekerja perkebunan kelapa sawit

2010-08-20 05:09:00

(Visijobs-News) - Bila satu dasawarsa lalu daratan Kalimantan Tengah (Kalteng) masih didominasi hijaunya hutan, kini hal itu telah berubah menjadi hamparan perkebunan sawit. 

Banyak kalangan merasa optimistis perkembangan kebun sawit Kalteng bakal membawa perubahan positif bagi perekonomian masyarakat yang berada di wilayah seluas satu setengah kali luas Pulau Jawa itu. 

Tetapi, tak sedikit pula yang pesimistis dan menganggap kehadiran perkebunan sawit yang luas itu bukan memberikan berkah, tapi justu dinilai akan mempersembahkan malapetaka di kemudian hari bila dikaitkan dengan kelestarian ekologi setempat. 

Menurut sebagian kalangan, perkebunan sawit akan mampu meningkatkan pendapatan daerah, mempercepat perputaran perekonomian, dan menyebabkan banyaknya perputaran uang di kawasan yang dominan lahan bergambut itu. 

Pendapat itu setidaknya dipaparkan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalteng, Winer, pada Lokakarya Sawit Multipihak beberapa waktu lalu di Palangkaraya.

Industri sawit Kalteng menghasilkan Rp12,6 triliun hanya dari nilai penjualan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) saja. 

Nilai tersebut didapat sebagai hasil panen dari 450 ribu hektare lahan sawit di Kalteng yang telah berproduksi dan menghasilkan 4 ton CPO per hektar per tahun dengan asumsi harga jual Rp7 juta per ton. 

Ditambahkannya di Kalteng masih terdapat sekitar 450 ribu hektare lagi perkebunan kelapa sawit yang sudah aktif, tetapi masih belum berproduksi dan baru akan mulai panen perdana pada Januari 2011. 

Menurut dia, perkebunan sawit telah berkontribusi banyak pada daerah, di antaranya melalui sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak penghasilan, dan retribusi daerah. 

Koordinator Wilayah Kalteng WWF-Indonesia, Rosenda C. Kasih yang juga menjadi pembicara pada Lokakarya itu menyebut beberapa sisi positif pengembangan perkebunan sawit Kalteng. 

Menurut dia, aspek positif pengembangan perkebunan sawit di antaranya terserapnya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan daerah, dan terbukanya akses jalan hingga ke daerah-daerah terpencil. 

Namun ia juga merinci berbagai dampak negatif pengembangan perkebunan kelapa sawit, seperti rusaknya hutan, berkurangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas lingkungan, serta timbulnya sengketa lahan. 

Melihat dampak ekologi yang muncul akibat perkebunan sawit Kalteng itu, apakah benar sawit akan memberikan kenyamanan atau malah sebaliknya melahirkan kesengsaraan di kemudian hari. 

Sebagai contoh, sehubungan dengan sengketa lahan, Juli lalu warga Desa Runtu Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mengirimkan surat laporan kepada Presiden Rountable Sustainable Palm Oil (RSPO) di Kuala Lumpur. 

RSPO adalah asosiasi para pemangku kepentingan dalam industri sawit yang mengembangkan dan menerapkan standar-standar global untuk minyak sawit lestari dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan dan penggunaan produk minyak sawit lestari. 

"Surat tersebut berisi laporan tindakan penggarapan lahan dan penanaman kebun sawit di wilayah bersengketa dengan pihak masyarakat oleh PT Surya Sawit Sejati (PT SSS), Group United Plantation Berhad (UP Berhad)," kata salah seorang warga yang menandatangani surat tersebut, Syafwani (41), kepada Antara belum lama ini. 

UP Berhad adalah perusahaan yang mendapatkan sertifikasi RSPO pada tahun 2008. 

Melihat kenyataan tersebut saja telah membuktikan kebun sawit sudah menyengsarakan sebagian warga. 

Kesejahteraan 

Kehadiran perkebunan sawit di dataran pulau terbesar tanah air itu diakui memberikan peluang begitu besar untuk menyerap lapangan kerja baru, khususnya untuk pekerja buruh perkebunan. 

Seperti dikatakan Ketua Gapki Kalteng, Winer, tenaga kerja yang diserap sektor usaha perkebunan sawit di Kalteng mencapai 270 ribu orang. 

Dari jumlah uang pekerja itu saja sudah bisa dihitung berapa besar perputaran uang Kalteng yang akan mendongkrak perekonomian setempat. 

"Hanya untuk gaji pekerja perkebunan sawit selama satu tahun termasuk gaji ke 13, maka uang yang dikeluarkan mencapai Rp3,51 triliun," tuturnya. 

Jika diambil rata-rata, penghasilan seorang buruh perkebunan sawit dalam setahun ditambah satu bulan gaji ke 13 adalah sekitar Rp13 juta, atau Rp1 juta per bulan, atau Rp34 ribu per hari selama delapan jam bekerja. 

Baru-baru ini Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng melakukan penelitian untuk membandingkan penghasilan buruh sawit dengan penghasilan petani padi lokal yang mengelola sendiri lahan pertanian mereka. 

Data Walhi Kalteng yang disampaikan Direktur Eksekutif-nya, Arie Rompas, menyatakan penghasilan petani padi lokal relatif besar dari pekerja perkebunan sawit itu juga dibarengi dengan biaya hidup yang tinggi. 

Bagi pekerja perkebunan sawit yang berada jauh dari pusat kota, biaya hidup tinggi itu muncul karena bahan makanan dan keperluan sehari-hari mereka harus dibeli dengan harga relatif tinggi. 

Jika dalam sehari pekerja sawit mendapatkan Rp34 ribu, sementara untuk biaya hidup sehari sedikitnya mereka mengeluarkan uang sebanyak Rp30 ribu, dapat diartikan penghasilan keluarga itu hanya Rp4 ribu per hari untuk bisa ditabung. 

Jadi dalam setahun keluarga pekerja perkebunan sawit hanya akan mengumpulkan Rp1,4 juta, itupun jika mereka bekerja sepanjang tahun tanpa libur. 

Bertolak belakang dengan itu, masyarakat petani padi dapat menekan pengeluaran bulanan untuk makan keluarga tanpa harus kekurangan gizi karena mereka dapat mencukupi kebutuhan akan beras, sayur, ikan, dari sekitar tempat tinggal mereka tanpa harus membeli. 

Yang dijadikan perbandingan adalah keluarga petani yang menggarap satu hektare sawah dan dalam setahun menghasilkan 200 kaleng gabah kering. 

Apabila harga jual gabah kering adalah Rp36 ribu per kaleng artinya hasil yang didapat petani sebesar Rp7,2 juta per musim tanam. 

Karena siklus tanam padi lokal adalah delapan bulan, sehingga masih memiliki empat bulan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan lain seperti mencari ikan, mencari rotan, atau bertukang dengan penghasilan rata-rata Rp900 ribu per bulan, atau Rp3,6 juta untuk empat bulan. 

Hasil petani keseluruhan adalah Rp7,2 juta ditambah Rp3,6 juta menghasilkan Rp10,6 juta, dikurang pengeluaran sebagai modal usaha tani dan sampingan sebesar Rp3 juta dan pengeluaran keluarga sekitar Rp4,8 juta per tahun. 

Dengan demikian maka hasil bersih keluarga petani adalah Rp10,6 juta dikurang total pengeluaran Rp6,8 juta, maka uang yang dapat ditabung petani untuk satu tahun mencapai Rp4 juta. 

Dari perhitungan tersebut, dapat dilihat bahwa keluarga yang bekerja sebagai buruh sawit dan bekerja terus-menerus dalam setahun masih mengumpulkan uang lebih sedikit daripada petani yang hanya memiliki dan menggarap satu hektare sawah. 

(cr/CR/ant)

(foto:ant)



Berita Terkait :

Tenaga Honorer K2 Yang Masuk Setelah 2005 Tidak Bisa Diangkat CPNS
Job Fair Kalimantan Selatan Membuka 2500 Peluang Kerja
Andrew Bocking Tinggalkan BlackBerry
Pengumuman Kelulusan Seleksi CPNS Honorer K2 Ditunda
327 Lowongan CPNS Disiapkan Untuk Pelamar Penyandang Cacat
BIN Buka 151 Lowongan CPNS
Kualitas Rekrutmen CPNS Pengaruhi Reformasi Birokrasi
Kementrian Lingkungan Hidup Buka Lowongan CPNS
Sudah 35 Instansi Pemerintah Yang Buka Lowongan CPNS
BKD Sulbar Akui Belum Laksanakan Tes Ujian CPNS

News Archieves


Konten : Job Search | Event | About Us
Management : ADVERTISING | DISCLAIMER | PRIVACY