Tips & Career
Karyawan Tidak Bahagia, Dampak Dari Kepemimpinan?
2012-01-26 13:33:00

(Visijobs – Tips&Career) - Banyak memang penyebab ketidak bahagiaan karyawan dan dimanapun kita bekerja selalu ada karyawan yang merasa tidak berbahagia dan bahkan banyak karyawan yang bermasalah. Namun pada kesempatan ini penulis ingin mengulas sisi lain dari masalah yang dihadapi karyawan yang menghambatnya untuk berkontribusi maksimal demi performa dirinya, divisinya sampai ujungnya berdampak pada performa perusahaan.
Seringkali perusahaan/pemimpin cenderung menilai negatif terhadap karyawan ketika dia kelihatan tidak menunjukkan hasil kerja yang baik atau karyawan menjadi pusat kesalahan apabila ada pekerjaan yang tidak selesai atau tidak tercapainya target. Karyawan seperti satu-satunya sumber kegagalan tersebut dan tidak ada faktor lainnya. Apakah benar demikian? Dalam hubungan kerja antara atasan dan bawahan sebetulnya sangat dimungkinkan timbul 2 hal penyebab jika terjadi kesalahan, apakah dari karyawannya atau memang harus diakui pemimpinnya yang bersalah. Sementara di satu sisi jika keberhasilan yang dicapai cenderung pemimpin yang menjadi pusat perhatian dan sanjungan. Ini tidak fair terhadap karyawan. Tetapi berapa banyak pemimpin yang berani mengoreksi dirinya atau pola kepemimpinannya sendiri?
Dari beberapa survey dan pemantauan terhadap karyawan yang memiliki potensi sangat besar dan attitude (sikap) yang baik namun tiba-tiba mengundurkan diri dari perusahaan dengan mengajukan surat pengunduran diri langsung kepada HRDnya dan tanpa sepengetahuan atasannya. Hal ini sangat mengejutkan atasan tersebut karena dia justru menjadi orang yang terakhir tahu bahwa bawahannya akan segera pergi. Beberapa pertanyaan diajukan kepada karyawan dan kesimpulan yang dapat dituangkan sebagai kesimpulan mengapa karyawan menjadi tidak bahagia dan meninggalkan perusahaan adalah:
1.Merasakan tekanan dari atasan yang selalu mempersalahkan karyawan.
2.Atasan “munafik” di mata karyawan -> di depan orang pintar bicara namun tidak menjadi “Role Model” yang baik di mata karyawannya sendiri.
3.Atasan terlalu subyektif -> orientasi kepemimpinannya cenderung untuk kepentingan dan nama baik pribadi.
4.Atasan plin plan dan tidak dapat mengambil keputusan, tidak berani mengambil resiko dan tantangan.
5.Atasan cenderung merendahkan (underestimate) terhadap karyawan. Ini diungkapkan dengan sikap dan perkataan yang membuat karyawan kehilangan semangat/motivasi kerja.
6.Atasan menghalangi karyawan untuk berkembang dengan selalu menolak kesempatan untuk mengembangkan karyawannya dengan alasan dia sangat membutuhkan karyawan tersebut.
Ada beberapa alasan lainnya namun secara garis besar telah disimpulkan diatas. Adakah sebagai pemimpin kita mau berhenti sejenak dan merenungkan apakah kita bagian dari pemimpin yang dimaksud. Ulasan ini juga berbicara kepada HR Manager/Director karena mereka juga adalah pemimpin-pemimpin, dan hampir setengah dari survey ini justru memberikan data bahwa karyawan yang tidak happy itu banyak adalah karyawan HR bukan hanya dari divisi lain.
Marilah kita bersama-sama terus belajar untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dengan tidak berhenti mengoreksi diri dan memikirkan kemajuan bagi semua pihak bukan hanya diri pribadi.
Salam sukses!
(MV/IC-FJ/vbm-vj)
Foto : survey.cvent.com
Artikel Terkait :
|
Karirtips Archieves
|